Dari Vikaris ke Pelayan Sejati: GPI Papua Mulai Ujian Gerejawi untuk Tetapkan Kualitas Pemimpin Gere
FAKFAK, 20 Oktober 2025 – Sinode Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua hari ini telah memulai tahapan dalam mencetak pemimpin gereja masa depan, yakni melalui Ujian Gerejawi. Kegiatan ini dilaksanakan selama lima hari penuh, mulai tanggal 20 hingga 24 Oktober 2025, dan dipusatkan di Kantor Sinode GPI Papua di Fakfak.
Sebanyak 64 orang calon Pelayan Firman dan Sakramen, yang telah menyelesaikan masa vikaris, berkumpul untuk menghadapi evaluasi ketat sebagai penentu kelayakan mereka untuk ditahbiskan.
Rangkaian acara diawali dengan Ibadah Pembukaan yang penuh sukacita dan hikmat. Ibadah dipimpin oleh Ibu Pdt. Y. Singale, M.Mis yang memberikan penguatan spiritual kepada para calon pelayan, mengingatkan mereka bahwa pelayanan adalah panggilan suci yang membutuhkan totalitas dan ketulusan hati.
Setelah ibadah, suasana menjadi lebih fokus dengan adanya Pengarahan dari Bapak Wakil I Sinode GPI Papua. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa Ujian Gerejawi ini adalah proses serius untuk menyaring kader terbaik. Beliau menyoroti tiga aspek fundamental yang wajib diperhatikan oleh seluruh pihak yang terlibat:
- Disiplin sebagai Cermin Kepemimpinan: Wakil I Sinode menekankan pentingnya disiplin, baik dari 64 calon pendeta maupun Majelis Penguji Sinode (MPS) dan Staff kantor Sinode. "Ujian ini bukan hal yang main-main. Perlu adanya kedisiplinan. Hal ini yang kemudian akan membantu kita dalam memupuk karakter kepemimpinan gereja ini ke depan," tegasnya, menjadikan kedisiplinan sebagai indikator awal kesiapan pelayanan.
- Menguji Kompetensi Tiga Pilar Pelayanan: Beliau menjelaskan bahwa ujian ini dirancang untuk melihat sejauh mana pemahaman dan penempaan yang diperoleh peserta selama masa vikaris 2 tahun. Penilaian akan difokuskan pada tiga dimensi utama:
- Kapasitas Teologis dan Pemahaman Injil,
- Integritas Karakter dan Moralitas
- Keterampilan Pelayanan dan Kepemimpinan Pastoral. Tiga pilar ini dianggap vital untuk memastikan calon pelayan mampu melayani secara holistik di jemaat.
- Kesehatan adalah Kunci Kelancaran Proses: Mengingat ujian akan berlangsung maraton selama lima hari, Bapak Wakil I Sinode juga memberikan peringatan khusus. "Bagi semua yang terlibat baik calon pelayan maupun MPS dan Staf harus menjaga kesehatan karena kegiatan ini berlangsung beberapa hari," pesannya. Kondisi kesehatan yang prima dibutuhkan agar penilaian dan proses ujian dapat berjalan secara optimal dan objektif.
Ujian Gerejawi ini menandai langkah terakhir bagi para vikaris untuk beralih status menjadi Pelayan Sejati GPI Papua. Sinode menargetkan, melalui proses yang transparan dan berintegritas ini, GPI Papua akan memperkuat barisan pelayan yang siap menjawab tantangan pelayanan seluruh wilayah GPI Papua.

